Sajak Debat Bulan dan Sang Katak

Silahkanlog in ataudaftarUntuk menyukai postingan.
Puisi
Sajak Debat Bulan dan Sang Katak

Mentari telah menutup jendelanya,
Rintik-rintik Air Mata Langit pun Usai di semainya..
Kicauan Burung-burung Hantu menyanyikan Lagu sendu….
Bunga-bunga malam telah bermekaran mengibas senyum pada sang musang…

Musang tersenyum lalu berlari mengejar buah-buang salam…
Anak-anak ayam tersesat pada genangan air ditengah Kolam hitam…
Katak-katak bernyanyi kegirangan..
Bulan berteriak dari atas cakrawala…

Hai Sang Katak, apa Yang Kau cari diatas sang teratai..? Ucap rembulan mengutuk!”
Kebebasanku, wahai Sang Bulan! Tukas Sang Katak sambil bernyanyi ria.
Kebebasan kau bilang, Kau bernyanyi, kau tertawa,kau kegirangan, Kau menulis Sajak rindu bukan kah kau tak jadi apa-apa? Amarah rembulan yang Memuncak…

Hai rembulan, Aku hanya menikmati waktuku, biarkan aku mendambakan mentari,,,
Mendapakan Rintik Hujan, menganga di atas teratai,,,
Dari pada aku mencapai ketidaksanggupanku, menjadikan aku angkuh diatas permadaniku..
Sementara Kumbang-kumbang,kadal, semut-semut hitam menangis berbisik membenciku.

Aku menulis,bernyanyi,bernada demi kebebasanku terhadap air mata-airmata yang tak terungkap, tertawaan Bintang yang terpaksa mendampingi rembulan yang Angkuh diatas tahtanya.

“Hei katak, Kau jangan mencaciku!! Alangkah bodohnya Kau tak menginginkan Tahta mu diatas kehebatanmu, diatas sajakmu, kau hanya Hidup sia-sia Bernafas tak memiliki mimpi menjadi sang Legenda?”..

Ha, buat apa aku benderang seperti mu rembulan yang Agung, kejayaan mu yang terang akan lenyap sembari waktu memanggilnya, Kau akan sirna ketika sang Ayam menutup ceritamu diatas sana dan mencampakkanmu dari Tahta yang tak sebenarnya Hakmu.

Hah, Kau lah makluk terbodoh yang ku kenal,wahai sang katak!!
Kau Akan menyesal menyiakan waktu dan kesempatanmu menjadi hebat diantara makluk Tuhan yang Agung.
Biarlah hai sang Bulan, aku tetap bernyanyi sendu di kala Huujan datang, dan bernada rindu dikala sang mentari menyinari kolam cinta.

Aku akan tetap seperti ini dan tak kan ada Yang mengusik kebebasanku bernyanyi.
Hujaan kemarin di kolam hijau”

Reactions

Disukai Oleh

One comment on “Sajak Debat Bulan dan Sang Katak

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.