Silahkanlog in ataudaftarUntuk menyukai postingan.
Puisi

Ditengah gusar kita di injak gengsi hina sekitar
dikuliti caci serta fenomena kaya yang hanya menjadi mimpi
Pagi menjadi pembangun jiwa untuk serta menyampaikan Mohon pada mereka
menunggu di bangku lalu di usir halus penolakan
Berbulan bulan kita berjalan mencari mimpi untuk menjadi cukup
Tubuh rapih duduk lelah di teras masjid memandang hujan
melamun panjang pada pengejaran lalu di sadarkan Adzan yang berkumandang
perjuangan yang begitu indah dirasa, Namun Miris di hati

Seratus hari si pejuang melewati masa jenuh dunia
Gelisah resah susah di rasa
pandangan nya selalu tentang orang tua yang sakit dan adik yang lapar
kejut hati mendengar ponsel butut mengundang tuk di angkat
lembut seorang wanita mengundangnya hadir tuk di tanya yang punya
senang tak terhingga jingkrak senang di senandungkan pada gerak

Setahun sudah jemarinya melekat kuat pada dunia kerja
angkut barang berat hingga komplen pedas di dengarnya
hati itu tetap tersenyum untuk bertahan
bertahan demi sebuah upah bulanan

Beras yang cukup hingga kawan nasi yang mulai berasa hadir di tengah tengah keluarga
gembira di rasa tersenyum di bibir
Peluk hangat sang adik di lingkarkan pada tubuh yang telah terluka cambuk usaha
Sejenak si pejuang menahan tangis bahagia melihat kesejahteraan besar tengah ia rasakan

Satu juta tiga ratus ribu rupiah ia kejar setiap bulan
pulang jalan, Basah tubuh, adalah rutinitas keadaan
Malam adalah waktu yang paling tepat untuk si Pejuang berdoa
Di peneduhan hujan , di antara pelataran pertokoan
duduk jongkok dengan botol kosong yang ia genggam
doa tersaut laun pada lisan

“Ya Allah Sertakanlah selalu sabar pada diriku, Hingga aku mati aamiin”

Tubuh meriang yang sakit itupun melanjutkan perjalanan dengan sandal tipisnya

di bawah gerimis di jam Sembilan Malam.

Reactions

0
0
0
0
0
0
Already reacted for this post.

Reactions

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.